Adil
merupakan salah satu sifat Allah yang termasuk dalam 99 nama Allah yang kita
kenal dengan Asmaul Husna. Sebagai orang beriman kita diharuskan dapat
mencontohi sifat tersebut semaksimal kemampuan kita. Sebagaimana firman Allah
SWT dalam Qur’an surat
An-nahl ayat 90
Artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku
adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang
dari perbuatan keji dan kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran
kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.
Mengenai ayat diatas, sering kita mendengar para
khattib rutin membacanya pada penghujung khutbah. Hal ini, bermula dari tradisi
pada dinasti umayyah dimana setelah kekuasaan politik berpindah dari
khulafaurrasyidin kepada dinasti umayyah suhu politik terus meninggi.
Masyarakat islam, secara politis tidak hanya terbagi menjadi dua, yaitu yang
pro dan kontra kekuasaan Mereka terpecah, dalam beberapa firqah dan saling
bersembrangan. Dampak dari perseteruan intern ummat ini besar sekali. Ummat
islam tdak lahi berada dalam satu komando sebagaimana sebelumnya. Mereka
terbagi dalam kelompok-kelompok yang
tidak saling berhubungan, apalagi saling menolong. Pada masa ini,
politik sudah tidak lagi dijadikan sebagai alat, tapi sudah merupakan tujuan. Program
yang mereka susun tidak lebih dari sekedar meraih kemenangan sebesar-besarnya
mengumpulkan kursi sebanyak-banyak dan mencapai jabatan setinggi-tingginya.
Banyak
ayat suci Al-qur’an diselewengkan tafsirnya hanya demi membela kepentingan
suatu kelompok. Hadits-hadits palsu disebar ketengah-tengan kehidupan ummat
untuk menjaring pendukung. Apalagi yang namanya fitnah, sudah menjadi bumbu
penyedap hamper pada pencerama atau kampanye. Tak tanggung-tanggung mesjidpun
ikut diramaikan oleh hingar bingarnya kepentingan politik ini. Majelis-majelis
ta’lim ikut tercemar sampai-sampai khutbah jum’at juga dipakai sebagai ajang
praktis pertarungan politik. Karenanya tak jarang seorang khatib memaki-maki
lawan politiknya diatas mimbar jum’at, fitnah, adu domba, dan berbagai intrik
akhirnya masuk dalam mimbar yang agung dan suci ini.
Untunglah
Ummar bin Abdul Aziz khalifah yang sedang berpuasa saat itu, segera menyadari
bahaya perkembangan negatifnya. Ia sangat prihatin, bila kondisi itu
berketerusan. Berbagai himbauan segera dimaklumatkan, tapi hasilnya belum
seperti yang diharapkan. Akhirnya, dengan bijaksana beliau meminta agar setiap
khatib menutup khutbahnya dengan membaca ayat
ke 90 surat
An-nhl diatas. Sejak saat itu tidak ada lagi kahtib mengumbar fitnah, caci
maki, dan itrik-intrik kotor diatas mimbar khutbah. Tradisi yang sangat baik
ini akhirnya diteruskan dari generasi kegenari hingga saat ini tradisi itu
tetap terpelihara. Malah seakan-akan membaca ayat itu merupakan syarat atau
rukun khutbah.
Mengomentari
ayat diatas, Ibnu Mas’ud inilah ayat yang paling sempurna dalam Al-Qur’an.
Sementara Ali bin Abi Thalib r. a berpendapat bahwa pengertian taqwa terkandung
dalam ayat diatas.
Imam Khusyairi menyampaikan pendapatnya dalam
menafsiri ayat diatas. Ia berkata Allah telah memerintahkan berbuat adil dalam
3 hal. Pertama, Berbuat adil kepada
Allah, Kedua berbuat adil kepada diri sendiri, Ketiga berbuat adil kepada
sesame.
Perlakuan
adil antara kita dengan Allah adalah mendahulukan hak Allah dari pada hak kita,
rela mendahulukan Allah dari pada hawa nafsu, dan mau melepaskan diri dari
larangan Allah untuk melaksanakan segala perintahNya.
Termasuk
berbuat adil kepada Allah adalah melaksanakan perintahNya tanpa kecuali. Bila
berhadapan dengan hukum Allah tidak ada pilihan, kecuali siap melaksanakan
segera. Menimbang-nimbang hukumNya, apalagi sampai menolaknya termasuk
kezaliman yang nyata. Allah berfitman dalam Qur’an surat Al-Azhab ayat 36 :
Artnya : “
Dan tidaklah patut bagi mu’min laki-laki dan mu’min perempuan apabila Allah dan
RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, aka nada bagi mereka pilihan yang
lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka
sunggulah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.
Menomor
satukan Allah adalah suatu keadilan. Kenapa?? Karena Allah-lah pusat
segala-galanya. Kita hidup karena Allah, segat karena Allah, mendapat rezeki
karena Allah, menikmati rezeki juga karena Allah. Tak sesaatpun kita bias lepas
dari Allah. Karenanya sangat wajar bila Allah dinomor satukan. Segala
perintahNya didahulukan.
Adapun
pengertian adil kepada diri sendiri adalah mencegah segala yang akan
menimbulkan kerusakan kepada diri sendiri. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 195
:
Artinya : “
Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri kedapalm kebinasaan dan berbuat
baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.
Perlu
diketahui bahwa dalam diri kita sendiri ada hak-hak yang harus dipenuhi. Setiap anggota badan punya hak mata, misalnya
punya hak untuk istirahat tidur selain ia punya kewajiban untuk bekerja, yaitu
melihat. Perut juga demikian hak perut
adalah memperoleh makanan yang halal dan baik. Halal saja belum cukup, demikian
juga baik saja tidak sempurna. Halalnya makanan menghindarkan diri dari siksa
neraka. Baiknya makanan bias manjaga kesehatan. Sebaliknya makanan yang buruk
hanya menjadikan perut mulas atau kesehatan terganggu.
Selain
kebutuhan jasad yang hak-haknya harus dipenuhi, hak akal juga harus diisi
adalah suatu kezaliman bila seseorang menelantarkan akalnya. Justru akal inilah
yang bias membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Jika hak akal tidak
dipenuhi, amaka kita tak berbeda dengan hewan misalnya. Hak akal adalah diajak
berpikir dengan jalan membaca, berdiskusi, berupaya menyelesaikan masalah,
melakukan riset, dan segala aktifitas ilmiah lainnya. Membeiarkan otak beku
adalah kemubaziran. Sedangkan kemubaziran itu temannya syetan. Firman Allah
dalam Qur’an surat
Al-Isra’ ayat 27
Artinya : “
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudaranya syetan dan syetan itu
sangat ingkar kepada Tuhannya.
Satu
lagi hak diri yang harus dipenuhi, yaitu kebutuhan rohani, bila jasad
membutuhkan makanan, maka makanan rohani adalah ibadah kepada Allah SWT.
Zikrullah adalah kebutuhan pokok manusia. Zikrullah bias berupa shalat, membaca
Al-Qur’an, atau menyebut nama-nama Allah. Tanpa zikir hati menjadi gersang,
jiwa menjadi kosong, dan hati tidak tenang. Akhirnya ulahnya bermacam-macam.
Adapun
adil terhadap sesama adalah saling memberi nasehat dan menjauhi perbuatan
khianat, baik sedikit maupun banyak, baik berupa kata-kata maupun perbuatan.
Dalam masalah hukum kita harus menerapkannya secara adil. Artinya jangan sampai
kecintaan maupun kebencian kita kepada orang lain menjadikan kita tidak bisa
menegakkan keadilan. Jangan sampai jika pelanggaran itu dilakukan oleh orang
yang kita cintai atau punya hubungan dekat, maka sansingnya dilunakkan dan jika
yang melakukan orang yang kita benci maka sangsingya diperjerat. Ini namanya
tidak adil.
Dalam
hal pemberian jabatan atau job tertentu misalnya harus berlaku asas keadilan.
Artinya kita harus menyerahkan suatu urusan hanya kepada orang yang ahli. Itu
namanya adil. Menyerahkan urusan kepada bukan ahlinya sama saja dengan merusak
tatanan yang ada. Rasulullah Saw, bersabda :
Artinya : “
Apabila suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tumbuhlah
kehancura.”
Adil
juga berarti proposional. Dalam menanggapi suatu masalah misalnya, kita harus
bisa mendudukannya sesuai tempatnya perkara kecil jangan diperbesar. Sedangkan
masalah besar jangan dianggap kecil. Kita harus bisa memilih, anatar yang pokok
dengan yang cabang. Yang prinsip dari yang tambahan. Adil juga menyangkut
objektivitas. Orang yang adil adalah orang yang obyektiv melihaqt suatu perkara
bukan dari senang atau tidak senang, kelompok saya atau bukan, usulan saya atau
usulan orang menguntungkan saya atau merugikan.
Semua
manusia tak peduli yang muslim atau yang
kafir, yang kecil maupun yang besar, rakyat atau penguasa, semua menuntut
keadilan. Bahkan kawanan perampokpun menuntut pembagian hasil jarahannya secara
adil. Bila tidak, akan terjadi bencana diantara mereka. Ada yang kemudian lapor kepada polisi, ada
yang nekad membunuh kawannya sendiri.
Berbuat adil harus dapat kita terapkan kapan
dan dimana saja Seperti contoh sebuah kisah yang terjadi dizaman Rasulullah
Saw, yaitu suatu hari salah seorang sahabat kehilangan baju perangnya. Setelah
dicari akhirnya ditemukan dirumah Zaid, seorang lelaki beragama yahudi. Kontan
saja para sahabat menuduh Zaid sebagai pencurinya. Akan halnya Zaid, ia
menyangkal semua tuduhan itu. Lantas diadakanlah penyidikan. Lagi-lagi kaum
muslimin menemukan ceceran tepung yang menuju kerumah siyahudi tadi, sementara
baju besinya ditemukan didalam karung tepung. Status yahudi bukan lagi
tertuduh, tapi terdakwa. Dugaan kaum muslimin semakin kuat saja. Meskipun
demikian Zaid tetap menolah, ia sama sekali tidak mau mengakui dakwaan yang
katanya tanpa dasar itu. Kasus ini akhirnya sampai kepada Rasulullah Saw.
Beliau memerintahkan, untuk menyidik perkara ini dengan teliti. Dari hasil
penyidikan diketahui bahwa Zaid tidak tahu menau barang curian tadi. Sebaliknya
diperoleh keterangan bahwa barang itu adalah titipan salah seorang muslim.
Kesimpulannya, si muslim inilah pencurinya. Mengahadapi kasus seperti ini
sebagaian sahabat lebih condong untuk menyelamatkan kawannya yang muslim dan
tetap menuduh si yahudi yang mencuri. Mereka tidak ingin nama besar islam
tercoreng gara-gara sebuah baju besi. Tetapi Rasulullah Saw, tetap petunjuk
wahyu. Maka Allah langsung memberi jawaban yang tepat, degan firmanNya dalam
qur’an Surat An-Nisa 105 – 107
Artinya : “
Sesungguhnya kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran,
supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan
kepadaMu, dan janganlah kamu menjadi penantang orang yang tidak bersalah,
karena membela orang-orang yang khianat, dan mohom ampunlah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lgi Maha Penyayang. Dan janganlah kamu
berdebat untuk membela orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang bekhianat lagi bergelimang dosa.
Dengan turunnya ayat ini, maka Zaid dibebaskan dan
orang islam yang mecuri tadi diberi hukumnya sesuai dengan ketentuan Al-Qur’an.
Kasus
ini memebri pelajaran, kepada kaum muslimin agar berbuat adil kepada siapa
saja, termasuk kepada musuh atau kepada orang yang berlainan agama. Keadilan
adalah sesuatu yang universal, yang tidak terbatasi oleh territorial atau
kewilayahan, nasionalisme, kesukuan, golongan, atau agama.
Andai
saja Rasulullah Saw, membenarkan sikap sahabat yang hendak mengorbankan si
yahudi demi melindungi si muslim yang mencuri atau demi menjaga wibawa islam
itu sendiri, maka suatu saat orang akan meragukan kebenaran ajaran Islam. Orang
akan berpikir, bahwa islam membenarkan tindakan kezaliman, menghalalkan segala
cara demi citra baik agama. Islam sangat menjunjung tinggi nila-nilai kebenaran
dan keadilan. Allah, Dzat yang Maha Benar pasti memihak yang benar. Membela
agama adalah suatu keharusan. Mengharumkan namanya adalah suatu kewajiban. Akan
tetapi, orang-orang yang fanatik sering kelewatan mereka mengira,
memperjuangkan agamanya, padahal yang
dilakukan justru merusaknya. Maunya mebela, tapi malah menghancurkannya. Maunya
syiar, hasilnya mengganggun ketentraman umum. Akibatnya ada orang lain yang
terzalimi. Padahal berbuat zalim, termasuk kepada non muslim tetap diharamkan.
Sekali
lagi, sebagai muslim tentu saja kita dituntut untuk berbuat adil, dimana saja,
kapan saja, dan kepada siapa saja. Dirumah, dikantor, dtempat ibadah, dijalan
atau dimanapun kita berada. Dalam situasi dan kondisi bagaimanapun kita juga
harus adil, baik ketika marah atau tidak, ketika senang atau benci, ketika
dalam keadaan lapang atau sempit. Pada waktu sibuk atau longgar. Kepada
siapapun kita juga harus adil baik kepada teman atau lawan, kepada orang dekat
maupun jauh, orang tua atau mertua, anak pertama atau anak terakhir, istri tua
atau istri muda. Pooknya kepada siapa saja kita dituntun untuk bersikap
seadil-adilnya. Akhirnya marilah kita memohon kepada Allah SWT. Agar dapat
memberikan petunjuk kepada kita, memberikan rahmat dan hidayahnya kepada kita
sehingga kita dapat berlaku adil dan tau menempatkan adil pada tempatnya
masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar