Jumat, 19 April 2013

contoh Hotbah jum'at tentang Keadilan



          Adil merupakan salah satu sifat Allah yang termasuk dalam 99 nama Allah yang kita kenal dengan Asmaul Husna. Sebagai orang beriman kita diharuskan dapat mencontohi sifat tersebut semaksimal kemampuan kita. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Qur’an surat An-nahl ayat 90







Artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji dan kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.

Mengenai ayat diatas, sering kita mendengar para khattib rutin membacanya pada penghujung khutbah. Hal ini, bermula dari tradisi pada dinasti umayyah dimana setelah kekuasaan politik berpindah dari khulafaurrasyidin kepada dinasti umayyah suhu politik terus meninggi. Masyarakat islam, secara politis tidak hanya terbagi menjadi dua, yaitu yang pro dan kontra kekuasaan Mereka terpecah, dalam beberapa firqah dan saling bersembrangan. Dampak dari perseteruan intern ummat ini besar sekali. Ummat islam tdak lahi berada dalam satu komando sebagaimana sebelumnya. Mereka terbagi dalam kelompok-kelompok yang  tidak saling berhubungan, apalagi saling menolong. Pada masa ini, politik sudah tidak lagi dijadikan sebagai alat, tapi sudah merupakan tujuan. Program yang mereka susun tidak lebih dari sekedar meraih kemenangan sebesar-besarnya mengumpulkan kursi sebanyak-banyak dan mencapai jabatan setinggi-tingginya.
          Banyak ayat suci Al-qur’an diselewengkan tafsirnya hanya demi membela kepentingan suatu kelompok. Hadits-hadits palsu disebar ketengah-tengan kehidupan ummat untuk menjaring pendukung. Apalagi yang namanya fitnah, sudah menjadi bumbu penyedap hamper pada pencerama atau kampanye. Tak tanggung-tanggung mesjidpun ikut diramaikan oleh hingar bingarnya kepentingan politik ini. Majelis-majelis ta’lim ikut tercemar sampai-sampai khutbah jum’at juga dipakai sebagai ajang praktis pertarungan politik. Karenanya tak jarang seorang khatib memaki-maki lawan politiknya diatas mimbar jum’at, fitnah, adu domba, dan berbagai intrik akhirnya masuk dalam mimbar yang agung dan suci ini.
         
          Untunglah Ummar bin Abdul Aziz khalifah yang sedang berpuasa saat itu, segera menyadari bahaya perkembangan negatifnya. Ia sangat prihatin, bila kondisi itu berketerusan. Berbagai himbauan segera dimaklumatkan, tapi hasilnya belum seperti yang diharapkan. Akhirnya, dengan bijaksana beliau meminta agar setiap khatib menutup khutbahnya dengan membaca ayat  ke 90 surat An-nhl diatas. Sejak saat itu tidak ada lagi kahtib mengumbar fitnah, caci maki, dan itrik-intrik kotor diatas mimbar khutbah. Tradisi yang sangat baik ini akhirnya diteruskan dari generasi kegenari hingga saat ini tradisi itu tetap terpelihara. Malah seakan-akan membaca ayat itu merupakan syarat atau rukun khutbah.

          Mengomentari ayat diatas, Ibnu Mas’ud inilah ayat yang paling sempurna dalam Al-Qur’an. Sementara Ali bin Abi Thalib r. a berpendapat bahwa pengertian taqwa terkandung dalam ayat diatas.
Imam Khusyairi menyampaikan pendapatnya dalam menafsiri ayat diatas. Ia berkata Allah telah memerintahkan berbuat adil dalam 3 hal. Pertama, Berbuat adil kepada Allah, Kedua berbuat adil kepada diri sendiri, Ketiga berbuat adil kepada sesame.
          Perlakuan adil antara kita dengan Allah adalah mendahulukan hak Allah dari pada hak kita, rela mendahulukan Allah dari pada hawa nafsu, dan mau melepaskan diri dari larangan Allah untuk melaksanakan segala perintahNya.
          Termasuk berbuat adil kepada Allah adalah melaksanakan perintahNya tanpa kecuali. Bila berhadapan dengan hukum Allah tidak ada pilihan, kecuali siap melaksanakan segera. Menimbang-nimbang hukumNya, apalagi sampai menolaknya termasuk kezaliman yang nyata. Allah berfitman dalam Qur’an surat Al-Azhab ayat 36 :







Artnya : “ Dan tidaklah patut bagi mu’min laki-laki dan mu’min perempuan apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, aka nada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sunggulah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.

          Menomor satukan Allah adalah suatu keadilan. Kenapa?? Karena Allah-lah pusat segala-galanya. Kita hidup karena Allah, segat karena Allah, mendapat rezeki karena Allah, menikmati rezeki juga karena Allah. Tak sesaatpun kita bias lepas dari Allah. Karenanya sangat wajar bila Allah dinomor satukan. Segala perintahNya didahulukan.

          Adapun pengertian adil kepada diri sendiri adalah mencegah segala yang akan menimbulkan kerusakan kepada diri sendiri. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 195 :






Artinya : “ Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri kedapalm kebinasaan dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

          Perlu diketahui bahwa dalam diri kita sendiri ada hak-hak yang harus dipenuhi.  Setiap anggota badan punya hak mata, misalnya punya hak untuk istirahat tidur selain ia punya kewajiban untuk bekerja, yaitu melihat.  Perut juga demikian hak perut adalah memperoleh makanan yang halal dan baik. Halal saja belum cukup, demikian juga baik saja tidak sempurna. Halalnya makanan menghindarkan diri dari siksa neraka. Baiknya makanan bias manjaga kesehatan. Sebaliknya makanan yang buruk hanya menjadikan perut mulas atau kesehatan terganggu.

          Selain kebutuhan jasad yang hak-haknya harus dipenuhi, hak akal juga harus diisi adalah suatu kezaliman bila seseorang menelantarkan akalnya. Justru akal inilah yang bias membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Jika hak akal tidak dipenuhi, amaka kita tak berbeda dengan hewan misalnya. Hak akal adalah diajak berpikir dengan jalan membaca, berdiskusi, berupaya menyelesaikan masalah, melakukan riset, dan segala aktifitas ilmiah lainnya. Membeiarkan otak beku adalah kemubaziran. Sedangkan kemubaziran itu temannya syetan. Firman Allah dalam Qur’an surat Al-Isra’ ayat 27







Artinya : “ Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudaranya syetan dan syetan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.

          Satu lagi hak diri yang harus dipenuhi, yaitu kebutuhan rohani, bila jasad membutuhkan makanan, maka makanan rohani adalah ibadah kepada Allah SWT. Zikrullah adalah kebutuhan pokok manusia. Zikrullah bias berupa shalat, membaca Al-Qur’an, atau menyebut nama-nama Allah. Tanpa zikir hati menjadi gersang, jiwa menjadi kosong, dan hati tidak tenang. Akhirnya ulahnya bermacam-macam.

          Adapun adil terhadap sesama adalah saling memberi nasehat dan menjauhi perbuatan khianat, baik sedikit maupun banyak, baik berupa kata-kata maupun perbuatan. Dalam masalah hukum kita harus menerapkannya secara adil. Artinya jangan sampai kecintaan maupun kebencian kita kepada orang lain menjadikan kita tidak bisa menegakkan keadilan. Jangan sampai jika pelanggaran itu dilakukan oleh orang yang kita cintai atau punya hubungan dekat, maka sansingnya dilunakkan dan jika yang melakukan orang yang kita benci maka sangsingya diperjerat. Ini namanya tidak adil.

          Dalam hal pemberian jabatan atau job tertentu misalnya harus berlaku asas keadilan. Artinya kita harus menyerahkan suatu urusan hanya kepada orang yang ahli. Itu namanya adil. Menyerahkan urusan kepada bukan ahlinya sama saja dengan merusak tatanan yang ada. Rasulullah Saw, bersabda :






Artinya : “ Apabila suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tumbuhlah kehancura.”

          Adil juga berarti proposional. Dalam menanggapi suatu masalah misalnya, kita harus bisa mendudukannya sesuai tempatnya perkara kecil jangan diperbesar. Sedangkan masalah besar jangan dianggap kecil. Kita harus bisa memilih, anatar yang pokok dengan yang cabang. Yang prinsip dari yang tambahan. Adil juga menyangkut objektivitas. Orang yang adil adalah orang yang obyektiv melihaqt suatu perkara bukan dari senang atau tidak senang, kelompok saya atau bukan, usulan saya atau usulan orang menguntungkan saya atau merugikan.

          Semua manusia tak peduli yang muslim  atau yang kafir, yang kecil maupun yang besar, rakyat atau penguasa, semua menuntut keadilan. Bahkan kawanan perampokpun menuntut pembagian hasil jarahannya secara adil. Bila tidak, akan terjadi bencana diantara mereka. Ada yang kemudian lapor kepada polisi, ada yang nekad membunuh kawannya sendiri.

           Berbuat adil harus dapat kita terapkan kapan dan dimana saja Seperti contoh sebuah kisah yang terjadi dizaman Rasulullah Saw, yaitu suatu hari salah seorang sahabat kehilangan baju perangnya. Setelah dicari akhirnya ditemukan dirumah Zaid, seorang lelaki beragama yahudi. Kontan saja para sahabat menuduh Zaid sebagai pencurinya. Akan halnya Zaid, ia menyangkal semua tuduhan itu. Lantas diadakanlah penyidikan. Lagi-lagi kaum muslimin menemukan ceceran tepung yang menuju kerumah siyahudi tadi, sementara baju besinya ditemukan didalam karung tepung. Status yahudi bukan lagi tertuduh, tapi terdakwa. Dugaan kaum muslimin semakin kuat saja. Meskipun demikian Zaid tetap menolah, ia sama sekali tidak mau mengakui dakwaan yang katanya tanpa dasar itu. Kasus ini akhirnya sampai kepada Rasulullah Saw. Beliau memerintahkan, untuk menyidik perkara ini dengan teliti. Dari hasil penyidikan diketahui bahwa Zaid tidak tahu menau barang curian tadi. Sebaliknya diperoleh keterangan bahwa barang itu adalah titipan salah seorang muslim. Kesimpulannya, si muslim inilah pencurinya. Mengahadapi kasus seperti ini sebagaian sahabat lebih condong untuk menyelamatkan kawannya yang muslim dan tetap menuduh si yahudi yang mencuri. Mereka tidak ingin nama besar islam tercoreng gara-gara sebuah baju besi. Tetapi Rasulullah Saw, tetap petunjuk wahyu. Maka Allah langsung memberi jawaban yang tepat, degan firmanNya dalam qur’an Surat An-Nisa 105 – 107




Artinya : “ Sesungguhnya kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadaMu, dan janganlah kamu menjadi penantang orang yang tidak bersalah, karena membela orang-orang yang khianat, dan mohom ampunlah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lgi Maha Penyayang. Dan janganlah kamu berdebat untuk membela orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang bekhianat lagi bergelimang dosa.

Dengan turunnya ayat ini, maka Zaid dibebaskan dan orang islam yang mecuri tadi diberi hukumnya sesuai dengan ketentuan Al-Qur’an.

          Kasus ini memebri pelajaran, kepada kaum muslimin agar berbuat adil kepada siapa saja, termasuk kepada musuh atau kepada orang yang berlainan agama. Keadilan adalah sesuatu yang universal, yang tidak terbatasi oleh territorial atau kewilayahan, nasionalisme, kesukuan, golongan, atau agama.

          Andai saja Rasulullah Saw, membenarkan sikap sahabat yang hendak mengorbankan si yahudi demi melindungi si muslim yang mencuri atau demi menjaga wibawa islam itu sendiri, maka suatu saat orang akan meragukan kebenaran ajaran Islam. Orang akan berpikir, bahwa islam membenarkan tindakan kezaliman, menghalalkan segala cara demi citra baik agama. Islam sangat menjunjung tinggi nila-nilai kebenaran dan keadilan. Allah, Dzat yang Maha Benar pasti memihak yang benar. Membela agama adalah suatu keharusan. Mengharumkan namanya adalah suatu kewajiban. Akan tetapi, orang-orang yang fanatik sering kelewatan mereka mengira, memperjuangkan agamanya,  padahal yang dilakukan justru merusaknya. Maunya mebela, tapi malah menghancurkannya. Maunya syiar, hasilnya mengganggun ketentraman umum. Akibatnya ada orang lain yang terzalimi. Padahal berbuat zalim, termasuk kepada non muslim tetap diharamkan.

          Sekali lagi, sebagai muslim tentu saja kita dituntut untuk berbuat adil, dimana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja. Dirumah, dikantor, dtempat ibadah, dijalan atau dimanapun kita berada. Dalam situasi dan kondisi bagaimanapun kita juga harus adil, baik ketika marah atau tidak, ketika senang atau benci, ketika dalam keadaan lapang atau sempit. Pada waktu sibuk atau longgar. Kepada siapapun kita juga harus adil baik kepada teman atau lawan, kepada orang dekat maupun jauh, orang tua atau mertua, anak pertama atau anak terakhir, istri tua atau istri muda. Pooknya kepada siapa saja kita dituntun untuk bersikap seadil-adilnya. Akhirnya marilah kita memohon kepada Allah SWT. Agar dapat memberikan petunjuk kepada kita, memberikan rahmat dan hidayahnya kepada kita sehingga kita dapat berlaku adil dan tau menempatkan adil pada tempatnya masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar